Tampilkan postingan dengan label Puisi Pasca 13. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi Pasca 13. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 Mei 2012

Rangkul Aku Kasih

Ketika sinar mentari

Belum saatnya tuk berdiri

Saat kurapuh tanpa tongkat

Dikala gelap selimuti alam

Tanpa cahaya secerah pagi

Mungkin aku tersungkur jatuh


Takkan lama cahaya kan datang

Terlihat jelas aku merangkak tanpa rangkulan

Semakin lama aku tersungkur

Haus, tanpa teduh selain alam

 

Sedikit demi sedikit

Rasa gosong hilang terlahap waktu

Dan kegelapan menyelimuti mata

Aku tersandung dan jatuh


Dimana larut melarutnya waktu

Lemak tak lagi berfungsi

Kelembaban turun dengan embun

Aku terdiam dan menggigil


Rangkul aku kasih

Dan selimuti aku

Dikala aku tak mampu berdiri menerjang alam

Dan waktu yang mungkin aku hadapi sendiri

Genggamlah tangan ini

Maafkan Aku Mamah

Tak pernah rasa bahagia

Terpancar dari wajahnya

Tiap minggu bahkan tiap jam

Adakala apapun

Penyesalan selalu terucap

Semua karena aku


Kasih sayangnya

Tak pernah aku balas dengan santun

Perhatiannya tak pernah

Aku balas dengan syukur


Ya Allah hukum hambaMu ini

Yang bingung saat ada persimpangan

Samapi salah mengambil jalan lurus


Ucapannya selalu aku lawan

Perhatianya selalu aku acuhkan

Kasih sayangnya hambar

Karena aku tak peduli

Aku telah sakiti hatinya

Sekarang dosa ini sudah sebesar gunung

Masihkah Engkau memaafkan hambaMu

Yang berlumur dosa di seluruh tubuh ini?

Kamis, 26 April 2012

Bantu Aku

Sunyi ini di saat menjelang pagi

Hati berlari kemana kemari

Tanpa arah hujan lagi


Harap merangkul mentari

Tapi sebatas mimpi

Tanpa mencoba berdiri

Di depan jiwa ini


Ingin mimpi ini berdiri

Diatas hati diri sendiri

Tanpa mengenal malam, siang dan pagi


Ingin memeluk mentari

Tanpa mimpi berdiri di depan cahayanya

Menghadapi seperti dirinya


Bantu aku kasih

Dengan cahaya kasihmu

Tanpa menyita waktumu

Tetap di sampingku

Kering rasa berlari hampa kedinginan

Dalam sinar matahari

Terasa tenggelam dalam karunia-Mu


Siang hilang terlahap malam

Sampai tak ada tempo 'tuk berlari keringat

Dan hembusan nafas masih panas

Tapi cahaya tak menyala


Beri aku tongkat tuk merangkak dengan doa dan sehangat senyumanmu

Aku kan merangkak di depan gelapnya malam

'tuk menyambut surya dan jemputlah aku

'tuk menggandeng tanganku dan tetap di sampingku

Bergetar atas keindahan-Mu

Bediri berlari menatap mentari

Memegang genggaman awan

Berdiri diatas mega relung relung kehidupan

Namun tak jelas, hanya kekacauan seekor burung

Hembusan angin tanpa bergemuru

Menyentuh lembut tubuhku dengan hawa dinginnya

Tersinar jelas sunrise di ufuk timur

Tersimpan kedamaian didalam biasan merahnya

Seteguk nyawa sepeti kembali

Namun kerinduan datang mendalam

Didasar qalbu atas nama-Mu

Ya Allah..........Engkau ciptakan keindahan

Diatas kelelahan ini

Engkau tak ada duanya

Semua tubuh dan hati ini bergemetar di atas keindahan

Namun aku terbayang lagi kerinduan-Mu

Di dalam sinar wajahnya

Yang berdampingan dengan merah sinar-Mu

Diatas mega di dalam keindahan-Mu

Dia hadir terbayang

Dan pancarkan cahaya keindahan-Mu di bayanganku

Merah merekah sang pembawa kehidupan

Ciptaan-Mu dan disampingnya

Sesosok pasangan kaum adam bersanding dalam bayanganku

Terasa dipeluk erat olehnya

Bergetar kedua kalinya aku oleh keindahan-Mu

Ya Allah......biarkan hari ini, esok dan seterusnya

Menjadi hari pengharapan atas rihdo-Mu

09-09-09

Kau seperti puteri yang menuruni anak tangga

Dengan paras anggunnya

Belaian lembut tutur katanya

Hangatnya perhatiannya dan begitu tenang kasihnya

Dia setangkai bunga di atas air

Yang selalu terpancar cantiknya bersama cahaya rembulan

Dia nafasku dan dia pula hatiku

Yang mengilhami setiap langkah hidupnya

Tak pernah berhenti mencintaiku sepenuh jiwa raga

Walaupun samar dan tak pernah berhenti mengasihi setulus hatinya

Mungkin aku separuh jiwanya

Mungkin pula hatinya

Yang selalu memeluk hatinya

Dia bagian dariku, tulang rusuk kiriku

Dan pertahankanlah aku sebagai pelengkapmu

Balasan cintamu

Dikala bulan bersinar dengan penuh

Desiran angin berhembus menerjang diriku

Seperti membisik agar cinta ini

Tak henti berdenyut dalam jantungmu


Gumpalan cahaya rembulan

Dengan biasan sinar bintang

Mempertegas rahang hati ini

Bahwa kumerindukanmu


Tatkala pantulan cahaya rembulan

Terbias dalam genangan air

Seakan memeluk erat jiwa dan raga

Agar balasan cintamu tak terbuang

Dan menjadi nyawa dalam dunia

Di setiap nafasku

Saat kesunyian datang tanpa dirimu

Raga tak sanggup berdiri

Keraguan menyapa rasa

Setiap malam saat bintang tak meraih mimipi

Hanya kehampaan menyelimuti hati

Harapan hanya ingin ada dirimu

Temani kehampaan hati ini

Kini waktu terus menutupi kerinduan ini

Yang ada hanya ada bayangan dirimu

Yang menjadi mimpi indah di setiap tidurku

Namun kau jauh dariku

Ijinkan hati ini terus memiliki hatimu di setiap nafasku

Kau tahu

Malam dalam gelap terenung satu alasan

Yang selalu aku pikirkan

Yang selalu aku nantikan

Semua kata dirimu

Kau tahu aku selalu ikuti pikiranmu

Kau tahu aku selalu ikuti apa kata dirimu

Tak satupun alasan

Ada ataupun tak ada dirimu

Ku tetap menjaga cintamu

Kau tahu ku selalu ikuti kasihmu

Kau tahu ku selalu ikuti cintamu

Dan tak satupun alasan

Melupakanmu, meninggalkanmu

Jiwaku ingin senantiasa bersanding setiap hari

Kau tetap puteri fajarku

Si penerang jiwa dalam semu

Yang terus menemani langkah hatiku

'tuk melangkah dijalan tertutup kabut harap

Senin, 27 Februari 2012

Bulan dan Air

Menjaga bintang agar tetap bersinar dalam tenggelamnya mega dalam nuraninya kadang kesalahan banyak dariku terdiam merenungi apa yang bulan pikirkan apa yang air bawa menuju dasar permukaan kuingin menjadi air yang memberi kehidupan bagi milik didalamnya oh.....Tuhan semoga sifat air menjadi nyawa dalam hatiku ini memang sebuah harapan yang tak mungkin tergenggam tetapi berusaha menjalin beraturan seperti bulan dan air yang beda tetapi saling berkesinambungan

Anugerah yang Ku miliki

Jika nanti esok engkau membuka kelopak mata yang masih sayu terlarut rasa yang terebah diatas alas tidur mu dan teriakan kokok ayam menyambut fajar yang berganti pagi dengan tetesan embun yang takkan pecah oleh sinar mentari disaat kemerdekaan negeri ini resapilah makna alhamdulillah dan bersyukur karena rakhmatNya kita masih berbaur satu saling menyayangi, dan semoga ketakutan kita tak menjadi penutup insan kita dan semoga jodoh itu milik kita berdua walaupun kerinduan masih membayangi sirkuit kita mari bergerak melangkah bersama karena engkau anugerah yang kumiliki

Aku tak Rela

Ketakutan rasa masih terdengar kehampaan terasa membayangi diamlah engkau di hati ini jangan pernah kembali ke belakangmu karena aku tak rela engkau tegak dalam lalu mu tanamlah angan diriku walaupun siang malam tak bersamaku aku kan siap di depan atau di belakangmu disaat waktu mendukung kita percaya padaku karena aku lebih percaya akan lisanmu

Terselimut Hari Esok

Tertegur angin berbaur rasa menyayat ombak ke tepi daratan teratur bergantian tanpa henti yang terus terselimut hari esok mentari bersinar dalam lengkungan bumi masih enggan memberi kehidupan, kapastian mentari datang di setiap harinya memberi cahaya yang terselimut hangat dengan keindahannya

Dan Jangan

Bersama bintang di malam berbaur dengan dinginnya angin kau tak henti ada dipikiranku Tak lepas oleh waktu Kau selalu singgah di hati seperti sinar mentari yang pasti menyinari malam Engkau dan aku adalah ikan bersirip satu yang takkan bisa berenang bila kita tak berpelukan dan genggam erat tanganku bila engkau diatas badai dan jangan pernah kau lepas karena kan dihadapi bersama